Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juni 2014

Kepada Kunang-Kunang

Ini bukan surat cinta, kekasih…
Hanya kegelisahan yang merangkul rindu, menjadikannya pilu
Surat terakhir yang ku layangkan seminggu lalu mungkin baru saja mendarat di telapak tanganmu yang halus
Mungkin jemari lancipmu pun baru saja membukanya
Tapi gelisah ini, kekasih, masih tak terobati walau potretmu pun terus ku pandangi.

Jumat, 28 Februari 2014

Pukul Lima



Warna-warni dunia. Senja pukul lima. Serba-serbi kehidupan. Segala rupa tumpah ruah turun ke jalan.

Jumat, 04 Januari 2013

Prosa Pergantian Tahun: Padang Ilalang, Soe Hok Gie, Soe .......

Telat memang jika ku tulis ini sekarang. Bahkan untuk menulispun aku butuh sebuah keberanian. Keberanian yang cukup besar untuk membiarkan semua orang tahu isi hatiku, bahkan sebelum kau mengetahuinya. Seperti biasa, biarkan aku bersembunyi dibalik tulisanku. Pengecut? Menurutmu begitu?

Minggu, 09 Desember 2012

Cerita Luna


28 June 2012

Luna. 19 tahun, dan dia freak.

Baru saja lulus SMA. Cantik sih, tapi freak. Pinter, sayangnya freak. Baik lagi, tapi tetep aja FREAK. Miss Freak? Yeay hahaa…

Oke, sekarang kita ilangin dulu sebutan “Freak” nya Luna. Dia cantik, pinter, baik, tapi ada satu masalah dalam hidupnya yang bikin ke-Freak-annya semakin freak, freak, dan lebih freak. APA??

Simple, Luna tak pernah merasakan belaian lembut dirambutnya dari seorang kekasih. Uuuuuhh,,kacian. Bukan karena dia jomblo, bukan, sama sekali bukan. Dia udah punya pacar sejak umurnya masih 12 tahun, tepatnya saat dia kelas 1 SMP. Bukan juga karena semua cowok yang pernah dipacarinya itu gak suka ngelus-ngelus rambut, bukan. Bukan juga karena rambut Luna pendek, atau botak, wogh bukaaan!! Malah Luna sempet ikutan kontes kecantikan rambut. Ya walaupun gak lolos karena ada selembar uban nongol tepat di atas poninya. So?? KENAPA Luna gak pernah merasakan belaian halus dirambutnya, (bahkan juga ciuman manis dikeningnya?? Juga sosok kekasih disetiap ulang tahunnya) KENAPA?? KENAPA?? KENAPAAAHH?? Kamu tahu masalahnya?? Tidak?? Let’s cekidot…

Rabu, 28 November 2012

Diary Abelle


Saat ini, mungkin kau tengah terlelap dalam mimpimu, atau mungkin sedang menikmati malam di tengah hingar bingar negeri itu, atau mungkin juga tengah berkutat dengan tugas akhirmu. Entahlah…

Senin, 19 November 2012

Jamuan Rahasia (RE)


“Bagaimana jika ku (masih) mencintai orang yang telah mempertemukan aku dengan suamiku, Juga suami ku yang (masih) memikirkan gadis yang dulu sangat dicintainya?”

Hari ini adalah tepat tahun ke tiga pernikahan kami; aku dan suami ku. 3 tahun berlalu tanpa tangisan seorang buah hati. Bukan karena salah satu dari kami yang ‘lemah’. Kami terlalu sibuk dengan pekerjaan dan mimpi masing-masing.

Kopinya Mbah Kakung


Pagi itu begitu sejuk. Mbah Kakung menyeruput kopi tubruknya perlahan di teras depan rumah, ditemani si Bejo. Gerombolan anak SD semangat menuju sekolah, malah ada yang berlari, ndak sabar pingin hormat sama sangsaka merah putih sambil nyanyi Indonesia Raya di sekolahnya.

“Pagi Pakde…” sapa Pak Gun, guru honorer yang sudah lebih dari 20 tahun mengabdi jadi guru SMA di desa.

Rabu, 31 Oktober 2012

Teruntuk, Tuan Dalang...

selamat pagi (siang, sore, atau malam), Dalang…
Lagi-lagi hanya suratku yang menyapa mu. Bersama rindu yang tertinggal sepeninggal mu, tentu saja. Bagaimana kabarmu hari ini, Dalang?? Senang rasanya andai aku tahu kabarmu setiap saat tanpa harus menunggu berhari-hari sampai surat darimu tiba di depan mataku. Hahhh…bukannya aku mengeluh atas semua keadaan ini, tapi… ya kau pun tahu bagaimana rasanya. Sendiri, sepi, kosong, hampa, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain. Kepergianmu bersama 2 temanmu tempo hari menyisakan rindu yang harus ku pikul sampai mataku dan matamu bersatu kembali suatu hari nanti.

Kamis, 06 September 2012

Lucu

Lucu,
Sore itu hujan memanja; bergelayutan di antara awan, dan jatuh.
Menyapa hutan; membelai helai demi helai daun, dan pecah di tanah.
Saling bercerita lah si induk dan si anak; apa ini, apa itu, kenapa begini, kenapa begitu, adalah ini, adalah itu, karena ini, karena itu.
Dalam rumah yang lembab, dan bau akar terbakar yang segera tersiram hujan. hhhhhmm...khas!!
Tanah basah di bawah sana pun mengirim bebauan klasik yang segar. Memantulkan aromanya ke seluruh bumi.

"kemana ayah?" tanya si anak

Sabtu, 11 Agustus 2012

Jamuan Rahasia


“Bagaimana jika ku (masih) mencintai orang yang telah mempertemukan aku dengan suamiku, Juga suami ku yang (masih) memikirkan gadis yang dulu dicintainya?”
Hari ini adalah tepat tahun ke tiga pernikahan kami; aku dan suami ku. 3 tahun berlalu tanpa tangisan seorang buah hati. Bukan karena salah satu dari kami yang ‘lemah’. Kami terlalu sibuk dengan pekerjaan dan mimpi masing-masing.
Dirga, suamiku, sudah tak ada di rumah sejak fajar hingga nyaris tengah malam, nyaris setiap hari. Sedangkan aku, aku sibuk mengejar impian ku sebagai seorang penulis. Dan, ya, sekarang aku seorang penulis. Penulis yang selalu dikejar deadline. Bukan kesibukan yang membuat kami bertahan tanpa buah hati, bukan juga karena ‘siapa yang mandul’. Kami memang tak berusaha.
Tepat 3 tahun yang lalu kami menggelar pernikahan cukup mewah di sebuah hotel berbintang di kota ini. Pernikahan yang didasari cinta kasih sudah sepantasnya mendapat perlakuan istimewa. Pernikahan yang (seharusnya) hanya (boleh) sekali seumur hidup, tentu saja membuat kami ingin melakukannya dengan sangat baik dan sempurna. Dia mencintaiku sepenuh hati, begitupun aku. Menjalin hubungan pacaran seperti yang lain? Kami melewatinya dengan sangat bahagia, suka dan duka kami bagi bersama. 1 tahun saja, cukup untuk kami saling mengenal luar dalam. Dia melamarku, dan tanggal 1 Januari 3 tahun lalu kami menikah.
Kalian pikir apa yang kami lakukan saat malam pertama? Kami hanya membaca sebuah bacaan di depan kami. Dia, suami (baru) ku, asik melihat-lihat agendanya, laporan pekerjaannya, dll. Aku? Aku asik di depan laptop, menyelesaikan hutang tulisan ku kepada penerbit yang masih menggunung-gunung. Tak pernah ada ‘malam pertama’ dalam kehidupan rumah tangga kami. Tak ada malam ke dua, ke tiga, keseratus, keseribu, tidak! Tidak ada! Kalian pikir kami akan memiliki anak dari kebiasaan seperti itu? Kalian pikir aku pecinta sesame jenis hingga aku tak mau melakukannya dengan suamiku sendiri? Tidak, aku mencintai suamiku lebih dari hidupku, begitupun suamiku terhadapku. Sekali lagi, kami saling mencintai.
Hari ini, pada hari ulang tahun pernikahan kami yang ke tiga, aku menyiapkan makan malam spesial untuk Dirga. Dia pun berjanji akan pulang cepat, sebelum senja berpulang. Dan benar, tepat pukul 18.12 mobilnya sudah terparkir rapi di garasi. Ku tengok, seorag lelaki jangkung kekar keluar dari dalamnya dengan wajah berbinar melihat sambutan hangat dari senyumku di daun pintu.
“assalamualaiakum…” ku raih tangannya, dan ku cium punggung tangannya
“wa’alaikumsalam…” jawabku plus senyum terindahku
“kali ini aku tepat janji kan, sayang?” tangannya melingkar di pinggangku juga sebuah kecupan dikening
“iya mas, coba kalau setiap hari…” dan dia tersenyum, kami pun berlalu masuk ke dalam rumah.
Aku menyiapkan makan malam selagi Dirga mandi. Di meja makan bulat ini tersimpan rapi semua makanan kesukaan suamiku. Makanan rumahan yang sudah lama tak pernah ku masak. Ya, karena kami tak pernah makan di rumah. Sebuah lilin cantik juga menambah indah malam ini. Dirga mematikan lampu disekitar meja makan, hanya lilin dan cinta kami yang menerangi malam ini. selesai menyantap semua yang ada di atas meja, Aku memulai pembicaraan yang lebih serius.
“sampai kapan kita akan seperti ini, mas?” tanyaku tenang dengan suara rendah, sengaja ku buat semerdu mungkin agar Dirga tak terkejut dengan pertanyaan itu.
            Dirga terdiam, cukup lama. Mungkin karena aku tak sabar menanti jawabannya, 10 detik pun terasa 1 jam. Akhirnya ia menarik nafas panjang, menahannya, dan terbuang; seperti cinta.
“baiknya kau tanya hatimu juga, Fat” jawabnya dengan mata kosong menatap lilin yang tinggal setengah.
“aku lelah, mas. 1 tahun aku berusaha mencintaimu lebih dan lebih. Hingga kita menikah, dan aku memang mencintaimu. 3 tahun setelahnya, hingga detik ini aku berada tepat didepan matamu yang mulai nanar, aku lelah. Lelah membohongi hatiku, cintaku pada Badai terlalu besar, melebihi cintaku padamu, mas. Aku tahu, cintamu pada Sekar pun tak akan bisa tergantikan oleh hadirku dihari tuamu kelak. Sekar yang selama ini ada dalam mimpi mu, mas. Cintamu padaku tak pernah sebesar cintamu pada cinta pertamamu itu, mas.” Emosiku mulai tak terkendali, nafasku beradu dengan kata, tanganku gemetar.
“………………” Dirga hanya terdiam
“kenapa diam saja? Lakukan sesuatu! Kembalilah pada Sekarmu!!”
“lalu apa? Kau akan kembali pada Badai?? Badai sudah menjadi suami orang, Fat. Dan aku tak mungkin kembali pada Sekar” ku rasa perang segera dimulai…
“tentu saja aku tak akan kembali padanya. Aku tak seburuk itu, mengharapkan suami orang. Hah!! Aku hanya ingin membunuh diriku sendiri dengan kesendirian, dan tanpa beban sebuah kesalahan dan dosa terhadap suamiku.”
“tidak, Fat. Aku tak akan kembali pada Sekar!!”
“kau tak akan kembali padanya, tapi kau tak pernah memberiku cinta dari hatimu, dan hanya Sekar, Sekar, Sekar yang ada dalam hati dan otak mu, mas. Hah!!” aku mulai beranjak dari meja makan, Dirga pun mengikuti ku
“FATMA!! Berhenti!! Baiklah, lakukan apa saja yang kau inginkan!”
“ceraikan aku, dan kembalilah pada Sekarmu!!” suaraku merendah, dan berlalu


-esage-
11 agustus 2012

Minggu, 29 Juli 2012

PUISI


Teringat jelas dalam benak ku. 15 tahun yang lalu. saat ibu masih terlihat sebagai perempuan. Saat itu ibu tengah mengajar tari anak-anak di desaku. Dan si kecil Fatma, aku, hanya memandanginya sambil memakan gula-gula kapas, duduk bersila memunggungi cermin besar dihadapan para penari. Tak mengerti apa yang ibu dan kakak-kakak itu lakukan. Memakai selendang yang diikat dipinggang, berlenggak-lenggok, kiri, kanan. Jari-jarinya lentik gemulai. Matanya melirik, kiri, kanan. Pantatnya bergoyang. Ibu bilang itu menari. Aku tak tahu, untuk apa orang menari?? Ibu malah tak pernah mengajariku untuk menari atau sekedar menyuruhku untuk mengikuti kakak-kakak itu berlatih di garasi yang disulap jadi “sanggar” itu. “Mengenalkan” ku dengan tarian pun tak pernah.
 
Suatu hari, saat semua orang disibukkan dengan agenda Negara, peringatan HUT  Republik Negara ini yang tinggal dua pekan lagi. ibu pun sibuk mempersiapkan anak didiknya agar berlatih lebih semangat. Ditengah kesibukannya ibu tiba-tiba menghampiri gadis kecil berusia 5 tahun ini, aku. Dengan 1 map tebal ditangannya, ibu berjalan ke arahku.
“Fatma, tidak mau ikut menari, nak?”, tanya nya. Dan aku hanya menggelengkan kepala.
Ibu hanya tersenyum, “ibu punya ini untuk Fat”, ibu mwmbuka map itu. Terlihat berlembar-lembar kertas berisi tulisan didalamnya.
“apa itu?” telunjuk rasa coklat ku menunjuk ke arah kertas-kertas itu.
“ini puisi, nak” ibu mengambil satu lembar dan memperlihatkannya padaku

“ka-e-ke..el-a-la(er-a-ra)…we-a-wa…ng. kelawang(kerawang). Be-e-be…ka-a-ka…es-i-si. Bekasi. Kelawang-bekasi??”  maklum aku baru saja akan masuk sekolah dasar taun ini.

“iya, ini puisinya Chairil Anwar. Dulu ibu pernah juara 1 baca puisi ini waktu SMP, pas acara tujuh belasan didesa dulu.”

“puisi itu apa?” sambil menjilat jari-jari yang berlumuran coklat. Kata yang asing, yang aku tahu hanya pussy, panggilan untuk kucing.

“puisi itu kata-kata yang indah. Kata-kata yang cantik.” Sesederhana itu, tapi anak berusia 5 tahun tahu apa?

“cantik? Mana? Fatma lebih cantik, ibu juga cantik” dengan wajah datar dan bibir penuh lumeran coklat

“fatma mau baca puisi?” Tanya nya

“Fat kan belum bisa baca. Ka-a-ka…em-i-mi…kami. Ye-a-ya…ng…yang.” Sambil terus mengeja dalam bisik

“nanti ibu ajarkan” ibu membelai rambut ikalku

“…” aku mengangguk. Aku tak tahu kenapa aku mengangguk.

Keesokan harinya, ibu membiarkan kakak-kakak itu menari sendiri tanpa didampingi ibu. Ibu malah mengajariku membaca “puisi”.

“kami yang kini terbaring antara Kerawang-Bekasi, tak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi, bla…bla…bla…” dengan lantang ibu mendeklamasikan si Kerawang-Bekasi.

Kakak-kakak yang tengah menari malah ikut menonton ibu bersamaku, dan ibu tak melarang (atau mungkin ibu tak menyadari). Kami semua bersila dihadapan perempuan yang seketika berubah seperti seorang pejuang.

“Prok-pok-prok…prok-prok-prok…” orang-orang bertepuk tangan setelah ibu menyelesaikan Kerawang-Bekasi itu. Aku ya ikut bertepuk tangan saja. Hehehe…

“lho, kalian bukannya latihan. Hayo sana lanjut latihannya”

“hehehe…hehehe…” kakak-kakak itu malah cengengesan, dan melanjutkan latihannya.

“nah, baca puisi itu seperti ibu tadi. Fat bisa?”

Aku mengangguk. Lho, kenapa mengangguk? Aku bahkan tak tau apa-apa.

Entah roh apa yang merasuki ku. Si Fatma kecil ini naik panggung tanggal 17  Agustus 1996 dengan percaya diri. Berdandan ala pejuang jaman ’45.

Suara mungilku saat itu mampu meredam semua suara yang ada disekitar. Semua mata tertuju pada Fatma kecil. Tak ada 1 orangpun yang bicara. Hening.

“…..Menjaga Bung Kalno, Menjaga Bung Hatta, Menjaga Bung Syahlil…” beberapa tersenyum geli mendengar nama Bung Karno menjadi “Bung Kalno” dan Bung Syahrir menjadi “Syahlil”, maklum aku masih belum fasih mengucap “R” diusia 5 tahun.

Setelah selesai, ibu dan ayahku yang berdiri di paling belakang kerumunan penonton terlihat bangga sekaligus geli. Dan ku lihat ibu menangis dalam senyum dan tepuk tangannya.

Kini dimataku ibu bukan lagi seorang perempuan, dia wanita. Wanita besar.




*terimakasih telah mengenalkanku dengan Puisi, ibu.
12 July 2012
-esage-

Rabu, 18 Juli 2012

Designer


Hari ini, menjadi hari yang ditunggu-tunggu sejak 5 tahun lalu. hari dimana aku mengenakan gaun yang dirancang spesial oleh ibuku sendiri. Ibu memang seorang penjahit terbaik yang pernah ku kenal.
Selama 30 tahun, hanya beberapa kali saja ayah dan ibu membelikan baju. Selebihnya?  Dari tangan ibu lah aku mendapat semua jalinan benang penutup aurat ini.

“Gaun Istimewa Dihari Istimewa, Dari Kasih Teristimewa”

Kurang lebih sebulan lamanya gaun ini dibuat. Penuh ketelitian, penuh detail, penuh kesungguhan…penuh harapan. Dengan semangat, ibu menggunting sehelai kain satin dan kain-kain lainnya, membaginya menjadi beberapa bagian. Setiap senti dan millimeter dihitungnya sesuai bentuk tubuhku. Satu persatu potongan mulai digabungnya,hingga membentuk sebuah gaun. Payet-payet mulai tersusun satu demi satu, berkilauan dibawah lampu tengah malam. Ternyata ibu pun menaburkan batuan Kristal diantaranya.

Yang ku tahu, itu pakaian termahal yang pernah ibu buat selama hidupnya. Ya, karena ibu hanya seorang penjahit biasa. Bukan desainer ternama, bukan.

Kini yang tampak bukan hanya sehelai kain satin berwarna putih, tapi gaun pernikahan bertabur Kristal.

Hhhmm….. Bu, hari ini aku menikah, seperti keinginanmu; dengan pria terbaik, juga gaun terbaik buatan mu. Sebelum aku sah sebagai seorang istri, aku ingin meminta maaf pada mu. Maaf selama ini aku terlalu mementingkan karier dan cita-citaku sebagai desainer dunia, hingga aku tak sempat menghiraukan sebuah impian seorang penjahit terbaik yang senantiasa membantu semua perwujudan cita-cita itu. Impian seorang ibu untuk melihat anak gadisnya menikah diusia 25 tahun.

5 tahun harapan itu berlalu begitu saja...

Hari ini, harusnya ibu ada disampingku. Seperti desainer dan modelnya yang bangga mempersembahkan karyanya didepan publik. Tapi, kejadian itu semakin membuat penyesalanku menggunung.
1 minggu setelah ibu menyelesaikan gaun ini, ibu pergi, selamanya... Tepat 1 hari setelah ulang tahunku yang ke 25.

5 tahun setelah itu, hingga detik ini, tak ada 1 pun rancangan yang ku buat. Aku menyesal. Niat ku untuk mewujudkan mimpimu yang terdahulu, ternyata melenyapkan impian mu yang teramat besar.

Menjadi desainer kelas dunia, itu impianmu yang tak terwujud. Tak ku sangka kau lebih menginginkan melihatku menggenakan gaun rancanganmu dihari pernikahanku.

Hanya gaun ini yang akan kupakai. Tak ada yang lain, bu…


Bandung, 17 July 2012
-esage-

Kamis, 12 Juli 2012

Sepenggal Sepeninggal

...dan Fatma pun menghampiri si Ayah,,berdiri disampingnya. dengan tegas ia berkata, "ayah,,benarkah dimata mu bahwa aku telah dewasa?"
si ayah, sambil meletakkan cangkir yg baru saja ia teguk isinya, "rasanya tak perlu lagi ayah menjawab itu, Fat. Kau tahu dari mata ku. Kau bisa menilainya".
Fatma melangkah menuju kursi rotan klasik, tepat didepan lelaki tua itu. "kalau begitu, bolehkah Fat meminta sesuatu?"
"aku sudah tua, Fat. Boleh saja kau meminta, tapi romo mu ini tak bisa menuruti semua pinta mu seperti dulu." dengan sedikit menerawang, disertai raut senyum khasnya..."kau merengek meminta ku menggendongmu,merayu agar aku membawakan oleh-oleh sepulangnya aku dari kota, berupa sekantong penuh gula-gula... Fatma,,Fatma..manjanya anakku ini. Apa yg kau minta kini, nak?"
Fatma, tersenyum kecil..lantas berkata,
"biarkan Fat memilih, yah"
sedikit mengerutkan kening, "memilih? Apa maksudmu, Fat?"
"iya ayah, biarkan aku memilih." sedikit menghela nafas,,Fatma mempertegas suaranya, "Fat akan memilih lelaki itu untuk menjadi ayah dari anak-anakku kelak. sebenarnya dia ingin bertemu ayah,,tapi belum Fat perbolehkan. Fat ingin tau dulu, apa ayah telah siap melepas Fat?"
"jangan bergurau, Fat"
"tidak, yah. Fat telah memikirkannya matang-matang."
"bukan itu maksudku, Fat. Fatma Aryani, anak sematawayang ku, ayah sangat tak sudi kehilanganmu, tapi untuk yang satu itu, mau tak mau aku harus melepasmu, nduk. Usiamu pun sudah cukup untuk meninggalkan rumah ini dan ikut bersama suamimu.. kelak kau pun akan menjadi orang tua, sama seperti ayah dan ibu. ayah percaya padamu, Fat. hmmm...lalu kapan kau perbolehkan lelaki itu untuk bertemu ayah?"
"entahlah..."
"ada apa lagi, Fat? Kenapa? Kau ragu? Tadi ayah menangkap keyakinan yg cukup kuat. Ada apa?"
Fat memberi senyuman khas gadis jawa,,"tidak apa-apa, ayah. Fat hanya butuh waktu."
"hmmm...kau benar, Fat. Sudah saatnya romo mu yg hampir pikun ini menggendong cucu. yaa,,ndak mungkin toh ayahmu ini menggendongmu??"
si ayah tertawa,,namun Fat, hanya tersenyum malu.
"terimakasih, ayah."
si ayah hanya membalas dengan senyuman.

Agustus 2010
by.~kilang~


*cerpen ini pernah di posting di blog Semoet Kecil ( hanya-kata-ungkapan-ku.blogspot.com )
dengan judul yang sama, dan tanpa perubahan sedikitpun pada cerita.  KILANG is Kaki Langit adalah nama pena saya sebelum *ESAGE

Rabu, 11 Juli 2012

Di Surga Saja


Bunda bilang aku tak akan pernah mampu untuk berjalan. begitupun kata ayah.
Tapi mereka menyayangiku, sungguh. dan aku percaya itu.
Tapi...ternyata tanpa sepengetahuanku, bunda bicara pada ayah bahwa aku tak akan bisa bicara.
Aku tak sengaja mendengar pembicaraan itu. maaf ayah, bunda, tapi aku ingin berjalan dan sangat ingin bicara, sungguh.
Betapa terkejutnya aku mendengar seseorang berkata pada ibuku bahwa aku...aku buta. tapi aku bisa melihatmu, bunda.
Bagaimanapun keadaanku, aku tahu mereka sangat menyayangiku. melebihi cinta ayah pada bunda, melebihi cinta bunda pada ayah.
Cinta. apa yang bisa kulakukan jika aku tak bisa berjalan, tak bisa bicara, tak bisa melihat. sudah pasti mereka membenciku.
Bunda menghampiriku malam ini, dalam lelapku. membisikkan kasih kedalam mimpiku. "bunda sayang kamu, nak" kecupan dikening, ahhh…
Ayah menenangkan bunda dalam tangisnya. juga belaian dikepalaku. "kalian tak membenciku? dengan keadaanku nanti?"
Ku mohon, jangan menangis. aku baik-baik saja, bunda. aku bahagia bisa bersama ayah dan bunda walau dengan keadaan seperti itu.
Tapi, aku lebih bahagia jika aku tak melihat bunda menangis karena keadaan ku
Ku mohon, Tuhan, jangan turunkan aku ke bumi. biarkan aku disini saja agar mereka tak pernah melihat ketidaksempurnaanku.




11 July 2012
-esage-

Senin, 11 Juni 2012

Senjanya Eyang Putri


Duduk di beranda, memandangi air yang perlahan jatuh satu persatu. Dari kelopak rose, dari si daun raksasa Anthurium Crystallinum, dari semak, dan pohon belimbing. Senyum hangat diantara garis-garis hidupnya menyapu sisa panas tubuh setengah terbakar matahari yang kini mulai berpamitan pulang. Biru laut, matanya, sejuk. Bukan karena ia datang dari negeri peri nun jauh disana, tapi karena ia (matanya) bosan melihat dunia yang semakin menghitam diantara riuh mulut knalpot.

“basuhlah tubuhmu, sayang” dengan nada lembut khas keraton ditambah simpul nyaman dari senyumnya.

Ku balas dengan senyum separuh lengket berkeringat. Memandikan daun-daun yang lelah menghirup udara kotor kota ini memang hal yang paling ku cintai. Ditemani Eyang Putri ku tentu saja.

Sore itu, setelah wangi ku melebihi melati di bawah jendela kamar Eyang, dan setelah lengket berganti segar. Baru saja kursi taman itu ku duduki, menemani Eyang yang lebih dulu berpindah ke kursi itu. Tiba-tiba…

“Kuping Gajah itu sudah turun temurun menjadi penghuni tetap keluarga kita” katanya

“……” aku hanya tersenyum

“Kuping Gajah itu memang tidak seindah Anthurium yang lain. Tapi Eyang suka. Melihat daun-daunnya yang lebar, Eyang selalu teringat buyut mu. Daunnya yang lebar itu seperti kelir. Tahu kelir kan, sayang?” matanya entah melihat apa

“tahu Eyang”

“Eyang gak bakal nyuruh kamu menanam Kuping Gajah kok Ollie sayang. Itu tergantung kecintaan kamu. Mau tanam Kuping Gajah, mau tanam melati, mau tanam belimbing juga boleh.”

“hmmm…iya Eyang”

“yang penting, jangan lupain Eyang, ya?” sedikit tawanya semakin menenggelamkan hari.

Lantunan ayat suci dari masjid mulai mengisi kekosongan senja. Eyang Putri tercinta menghela nafas, mulai merendahkan suaranya:

“cah ayu, inget pesan Eyang selama ini, ya? Kamu ini memang perempuan, tapi bukan berarti kamu gak bisa berbuat apa-apa. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Tapi, ingat, jangan lupakan kodrat, ya? Perempuan itu gak boleh ngomong kasar, harus lebih memperhatikan sopan santun, toto kromo, jangan lupa itu. Satu lagi, boleh saja kamu suka dunia akting, tapi jangan pernah jadi pemain sinetron. Ya?” senyumnya dan gelengan kepalanya kontras dengan seruan perintah-perintah  Tuhan dilantunan ayat suci itu.

Panjang lebar wanita terkasih itu bercerita dengan tenangnya, berjuta nasehat tersembunyi di dalamnya. Ku tahu Eyang Putri begitu mencintaiku, cucu ke-27 nya. Setiap katanya adalah cinta. Melebihi kecintaan Eyang pada Kuping Gajah, melebihi kecintaannya pada ketenangan yang diberikan senja dan lantunan ayat suci.



Untuk yang Terkasih
I  love You Eyang Putri
Subang, 10 Juni 2012
-esage-

Minggu, 10 Juni 2012

si Matahari Bisu


17.40 tepian danau ditemani senja berpulang
Akhirnya matahari bisu ku mau kembali bicara. Sesuatu yang sudah lama ku nantikan. Ya, sejak berbulan-bulan lamanya.

12.39 seusai makan siangku yang tak lebih dari 4 sendok nasi. Perbincangan 39 menit 19 detik itu menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Berbicara  padanya tak ubahnya sebuah perbincangan seorang wartawan dan narasumber, atau lebih tepatnya lagi, seperti dialog seorang ibu dengan anaknya yang ternyata seorang pengidap autis.
Apapun yang ku tanyakan hanya terjawab “iya”, dan “tidak tahu”. Termasuk pertanyaan kesekian ku yang menanyakan tentang pembelaan atas menghilangnya dia selama ini, yang hanya mendapat respon “hmmm”.

Tak ada satupun pertanyaan yang mendapat jawaban memuaskan. Selalu bersabar. Semua ucapanku selalu diulanginya. Sesekali setengah berteriak. Dan entah apa yang dikatakannya. Termasuk saat ku dengar tiba-tiba dia mengucapkan “Rocket Terbang”.
            “Rocket terbang?”
            “rock…et… ter…bang” sedikit terbata, suaranya melemah
            “maksudnya?”
            “iya”
            “kenapa?” tanyaku perlahan
            “kecoak” jawabnya datar
“kamu kenapa?” tanyaku lembut
“aku gak kenapa-napa” jawabnya manja
Hening sejenak……
“kamu lagi apa?” layaknya pertanyaan seorang guru taman kanak-kanak kepada muridnya
            “hhhhh…duduk……” jawabnya tegas

BRAKKK!!! Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang berat dan besar jatuh dari ujung telpon.
“………………” tiba-tiba sunyi
Baru saja aku akan angkat bicara dan mengajukan pertanyaan ringan yang lain, tiba-tiba dia bersuara aneh lagi.
Ditengah kesabaranku yang masih bertahan, tetes demi tetes bulir embun hangat meluncur dari pelupuk mataku.
Selama ini aku berusaha memintanya, dan membujuknya untuk berbicara, tapi tak kunjung terlaksana. Siang ini, harusnya banyak yang bisa kami bicarakan. Bukan sekedar dialog-dialog pemulihan mental si autis.
            “shhha…yang…” seperti rintihan orang sekarat
            “ya?”
            “da…dah bundaaa… sampai jum…pa” dan suara-suara aneh kembali keluar dari mulutnya
            “……” hanya mencoba menanggapi
Semuanya terasa aneh. Apa aku tengah berada disebuah rumah sakit jiwa??
Beberapa pertanyaan kecil tetap ku layangkan untuk pria 25 tahun di seberang sana. Walau ku tahu tak akan ada jawaban yang bisa memuaskan hatiku. Hanya mencoba mengembalikan sikapnya yang dulu tenang, namun kocak dan menyenangkakn. Semua usahaku akhirnya terjawab dengan perkataan “aku mati, dek. Da…dah… sampai jump…pa”.
Setelah beberapa detik, hanya bunyi berdengung terputus-putus dari suara telpon yang terputus.



Sbg, 6 June 2012
-esage-