Jumat, 13 April 2012

AKU DAN NOVEL


Masih banyak cerita bersambung yang belum terselesaikan. Masih banyak kisah terlontar yang belum sempat ku tuliskan, karena masih tercecer diotak, belum sempat mengalir di lenganku, lewati vena,  dan menetes dikertasku.
Apa jadinya jika aku ada dalam novelku sendiri?? Aku bercerita, bercerita tentang kebusukan dan gemerlapnya AKU…

*******
Si Autis yang tak pernah berhenti berceloteh di tengah gelap, membelah kesunyian, menggugah jiwa yang terlelap. Memaksa seorang untuk mendengarkan mulutnya bercerita ini itu.

Itu yang mereka katakan untuk mengkritik novelis amatir yang baru belajar merangkak, belajar berjalan, tertatih, tergopoh-gopoh, masih ragu untuk melangkah.

Siapa gerangan novelis bisu itu?
Kau pikir itu aku??
Tapi ku pikir otak mu benar, itu AKU , karena yang bicara hanya kertasku. Bukan aku. Aku yang bisu.

Seorang Autis yang tak bisa bebas berkata. Tak berani menatap mata seorang kritikus yang bicarakan kebisuanku ini sebagai celotehan emas milikku.


Bdg, 25 Februari 2010
-esage-

Yang Terakhir


Tunggu…!!
Harusnya tak hanya satu kata yang ku dengar, tapi ratusan kalimat yang fasih di ucapkan para filsuf . bukan seorang cenayang yang sok tahu ata dokter yang sembuhkan penyakit kejiwaan ku.

Berharap adanya alunan music klasik yang iringi ku di tengah derasnya hujan mala mini. Atau senyumnya,,dan yang ku dapat hanya gulungan awan hitam selimuti kawanan bintang teduhi semut berkawan dibalik semak.

Tunggu…!!
Harusnya ada seseorang disini.
Kemana ia pergi?? Tak bisakah ia membantuku?? Atau apa??

Tiga purnama telah berganti, dan kini telah ku buka semua pertanyaan yang selama ini mengganggu mimpi-mimpi.


*kan ku tunggu hingga kau bosan mendengar semua celotehan gambarku, sembari k uterus amati cermin itu……



Bdg, 16 Februari 2010
-esage-

Rabu, 11 April 2012

Symphony Bungkus Rokok


Hey Bung…
Jangan buang bungkus rokokmu, biar aku yang simpan baik-baik sebagai kenang-kenangan dari pertemuan kita di bangku taman sebelah utara itu.

Hey Bung…
Jangan buang bungkus rokokmu, jangan juga kau beri pada pemulung yang sejak tadi mengincar bungkus dan isinya. Biar aku yang simpan baik-baik untuk ku lukis sebuah nama yang tengah ku pikirkan.

Sepeninggal kau dari sini, meninggalkan aku dan bungkus rokok yang ku pinta, ku mulai memahat satu demi satu huruf dengan rokok yang masih bisa ku hisap. Hingga ujung padam, masih tersisa deretan kata yang tersimpan di memori otakku.

Hingga habis ku hisap, tak kunjung datang juga seseorang yang telah ku ukir namanya itu.
Oh, mungkin tak cukup hanya satu lukisan bungkus rokok. Ku lambaikan tangan pada seorang laki tua, meminta satu bungkus rokok dan memberinya selembar kertas dengan 4 (empat) digit angka 0 (Nol) dibelakang angka 1 (satu). Cepat ku bakar dan ku hisap semua isinya……hingga kering rasanya paru ini.

Mulali ku ukir lagi namanya dengan sisa rokok yang masih ku bakar.

Tapi masih saja tak datang.
Ada apa gerangan Tuan??  Datanglah barang sejenak untuk beri makan merpati yang kelaparan, atau sedikit berbincang denganku, tanyakan keadaan kota atau sekedar menikmati merahnya langit sore bersama rokokmu, lagi.




Bdg, 9 Desember 2010 
-ESAGE-

Sabtu, 07 April 2012

JOL

Anjeun teh lain raja, lain dewata
 Lain raga nu kuduna dipikaasih pikacinta
Tapi naha hate bet teu bisa ingkah tinu teuteupan panon anjeun?
Asa pageuh kacangreud ku amisna madu katresna.

Unggal poe,
Torojol anjeun ngaliwat dina implengan
Jol asup dina impian
Tapi nu geus kaalaman mah sugan moal deui kaalaman.

Unggal poe,
Nu digigir mah nyengir alabatan meunang emas sapeti
Seuri nyakakak  alabatan meunang inten sakotak
Tapi sugan lain eta nu dipiharep kuring.

Nu jauh, nu neuteup anteb dina hate
Nu jauh, nu piligenti muka lawang hate
Nu jauh, nu dipikasono unggal poe
Nu can tangtu moal bisa maneuh dina hate.

"Workshop Bahasa & Sastra Sunda"
@sally_esage

- ESAGE -

Rabu, 21 Maret 2012

Janji Suci Kota Klasik


……Tiba-tiba saja seorang pemuda berkaos oblong dan celana jeans  yang sedikit belel menghampiriku, wajahnya memang tak lebih tampan dari seseorang disamping kanan ku itu, tapi senyumnya terasa hangat ramah ditengah cuaca yang sedetik lagi berkabung.  Bersama sebilah gitar yang nampak kuno ia menganggukkan kepala pertanda “permisi”. Satu persatu dawai digerayanginya, anggun jemarinya nakal. Satu persatu kata mulai muncul dari mulutnya. Terdengar naif memang jika ku tersanjung oleh nada-nada yang dilantunkannya. Tapi memang tepat sekali, naif. Sebuah kota tua, gerimis, dimana bibir tersenyum dan hati tengah berdegup kencang mencoba mencari mesin waktu agar waktu tak lantas berlalu, detik terakhir, saat sebuah jam tangan terasa begitu menyeramkan, tarikan-tarikan nafas yang kasar mencoba berkata “hentikan waktu ini, Tuhan”, ya, semua itu konyol, dan naif, dramatik. Tapi ini kekonyolan klasik yang begitu karismatik dibenak ku. Ingin rasanya ku memeluk seseorang disamping kanan ku, menangis didalamnya dan berkata “tolong hentikan waktu ini untuk beberapa saat saja”. Tapi seseorang disamping kanan ku nampaknya tengah bahagia, entah apa yg membuatnya bahagia ditengah kegundahanku.

“……aku ingin mempersuntingmu, tuk yang pertama dan terakhir…”

Betapa aku ingin menghujani kota ini dengan air mata, Tuhan. Biar ku ganti setiap tetes hujan yang mulai jatuh malu-malu ini dengan air mataku. Entah kesedihan atau kebahagiaan yang tengah ku rasa.

Sempat ku meminta sebuah senandung yang bisa menghantarkan ku meninggalkan kota ini. Masih dengan senyumnya yang hangat dan ramah, kembali ia menggelitiki setiap dawai yang dipeluknya. Berderai kata-kata manis bersahutan nada seklasik kota ini. 

Ya, Ku cukupkan saja perjalanan ini, dibawah rindang daun yang menaungi ku, dibawah tetesan hujan yang mulai meraba tubuhku, ditengah riuh tepuk tangan dibenakku, disamping tubuh tegap yang senantiasa tersenyum, dihadapan jejeran pedagang kaki lima, aku harus tegas, ini saatku kembali ke duniaku.
Terimakasih Tuhan, terimakasih Mas penyanyi untuk "Janji Suci"-nya, terimakasih pohon, terimakasih hujan, terimakasih banyak seseorang disamping kanan ku……
Terimakasih kota klasik.............


20 Maret 2012

-Esage-

Minggu, 18 Maret 2012

Bintang Bersahutan

Membiarkan malam tetap menjadi malam

Dimana hati yang lelah berteduh

Biar mereka yang berbahasa, aku akan diam hingga fajar tak lagi datang. Berteduhlah selama kau mau, karena matahari ingin terlelap lebih lama.

Maka dalam diam langkah ini tak akan terhenti meski malam tak kunjung berakhir.

Dan di ujung malam nanti, beri aku sedikit saja waktu untuk merasa tenang dan damai dalam pelukanmu………………..

Tek perlu menunggu matahari untuk selalu dalam pelukku karena hati tak akan hilang selama nafas masih dapat mengecup damai embun esok hari.

Dan tanpa pernah kau tau, aku lebih dari itu………….

Dan ku tahu, malam pun kian hangat mencumbu para anak langit, berpelukan dibalik hingar binar kota dibawahnya.
selamat malam Bintang....



- Esage -

Jumat, 10 Februari 2012

Lonceng Gelas Kaca

Lonceng kaca yang bergumam menghampiri perempat malam kini mulai merintih kesakitan oleh pecahannya sendiri. Merintih ditengah desiran angin yang semakin menepi ke dinding kacanya.
Sedang diluar semakin ramai oleh gelak tawa para Candala berjubah Begawan yang bersembunyi dibalik bareksa. Apakah ini drama?

Tidak, manis. Drama itu hanya sekedar “mulai dan berakhir”. Apakah mereka hidup? Ya, mereka hidup untuk saat mereka bertopeng. Tidak untuk setelahnya.

Coba dengarkan sebuah tembang yang disenandungkan seorang gadis dibalik bilik  rapuh di desamu. Sisipkan diantaranya sebuah not sang lonceng kaca yang bergeming.

Seperempat malam yang meredupkan bumi, demi kaca-kaca yang menari liar dijemari malam. Aku berkata padamu, kau, seseorang dihadapku, aku berikan jari manisku untuk membantumu mencintai seseorang yang kau inginkan.

Kasih, jangan pernah tunjukan padaku air muka pucatmu. Kau tak tahu siapa yang ku maksud “kasih”? Kau, ya, kau, kau yang melihatku. Kau yang matanya mengarah kaku padaku. Aku disini, didepan matamu. Bisakah kau tersenyum padaku? Cuaca disini sungguh tak menjadi sahabat bagi ku. Kau lihat? Aku menunggu balasan senyum mu. Biarkan senyum ini terus berkembang di bibirku, hingga akhirnya ku lihat pula kau tersenyum, yang mungkin entah untuk dan bersama siapa. Asalkan aku bisa melihat senyum itu.

Dengar, jangan sampai lonceng itu menghancurkan dindingnya sendiri. Kasih, embun yang kita rasakan tadi hanya milik fajar, pun lembayung yang kita lihat tadi hanya milik senja. Bahkan panas dan dinginnya bumi telah melantik  jagat sebagai ibu untuk sebuah aurora yang senantiasa melambai ditengah kebekuannya.

Demi segara yang melintang dari utara ke selatan, yang membujur dari timur ke barat. ku persiapkan sebuah jari untuk menjaga ku dari apapun yang bisa memecahkan gelas dalam genggaman ku.





- Lonceng Gelas Kaca -

            ESAGE
February, 10th 2012