Senin, 25 Juni 2012

?


"Selamat Malam Jiwa-Jiwa Penggonggong
Nantikan purnamamu, lantas berteriaklah
Relakan saja aku dijadikan persembahan, kelak kau temukan kemakmuran negerimu
Apa? Negeri?? Ini hanya tumpukan sampah yang menjadi daratan
Daratan sampah?? Ya, kotoran dari mulut-mulut kalian semua
Sudahlah, anak kecil tahu apa?
Bicara soal negeri. dengar kata negeri dongeng saja tertidur, bagaimana dengan negeri lain? \
Mati kamu!!!"


24  Juni 2012

Minggu, 17 Juni 2012

KISAH:


Perempuan Setengah Jalan(G)


Tersenyum binal,
Menjamu malam pinggiran kota
Berburu nafas meninggalkan tongkat kasta
Melangkah satu garis di sepanjang trotoar serupa neraka

Rambutnya berkibar bagai prosa tengah malam
Mukanya setengah hambar, sedikit pucat
Aroma tubuh berbaur debu,
Pekat


Bersolek ditepian senja
Demi jantung yang harus tetap bekerja keras,
Juga perut yang menanti makan, perut si wanita renta
Walau aku harus menelan jakun dalam-dalam, mencukur jambang


Dia, terbaring disudut riuh kemacetan dalam istana kardus kami
Dia, tersenyum bibirnya menyambut sebungkus nasi dijinjing
Dia, menangis hatinya melihat gincu mengganti kumis
Dia, wanita yang merindukan putranya kembali
Dia, hanya demi dia saja, demi wanita terkasih


Emak
Di rumah





Sbg, 6 Juni 2012
-esage-

Senin, 11 Juni 2012

Senjanya Eyang Putri


Duduk di beranda, memandangi air yang perlahan jatuh satu persatu. Dari kelopak rose, dari si daun raksasa Anthurium Crystallinum, dari semak, dan pohon belimbing. Senyum hangat diantara garis-garis hidupnya menyapu sisa panas tubuh setengah terbakar matahari yang kini mulai berpamitan pulang. Biru laut, matanya, sejuk. Bukan karena ia datang dari negeri peri nun jauh disana, tapi karena ia (matanya) bosan melihat dunia yang semakin menghitam diantara riuh mulut knalpot.

“basuhlah tubuhmu, sayang” dengan nada lembut khas keraton ditambah simpul nyaman dari senyumnya.

Ku balas dengan senyum separuh lengket berkeringat. Memandikan daun-daun yang lelah menghirup udara kotor kota ini memang hal yang paling ku cintai. Ditemani Eyang Putri ku tentu saja.

Sore itu, setelah wangi ku melebihi melati di bawah jendela kamar Eyang, dan setelah lengket berganti segar. Baru saja kursi taman itu ku duduki, menemani Eyang yang lebih dulu berpindah ke kursi itu. Tiba-tiba…

“Kuping Gajah itu sudah turun temurun menjadi penghuni tetap keluarga kita” katanya

“……” aku hanya tersenyum

“Kuping Gajah itu memang tidak seindah Anthurium yang lain. Tapi Eyang suka. Melihat daun-daunnya yang lebar, Eyang selalu teringat buyut mu. Daunnya yang lebar itu seperti kelir. Tahu kelir kan, sayang?” matanya entah melihat apa

“tahu Eyang”

“Eyang gak bakal nyuruh kamu menanam Kuping Gajah kok Ollie sayang. Itu tergantung kecintaan kamu. Mau tanam Kuping Gajah, mau tanam melati, mau tanam belimbing juga boleh.”

“hmmm…iya Eyang”

“yang penting, jangan lupain Eyang, ya?” sedikit tawanya semakin menenggelamkan hari.

Lantunan ayat suci dari masjid mulai mengisi kekosongan senja. Eyang Putri tercinta menghela nafas, mulai merendahkan suaranya:

“cah ayu, inget pesan Eyang selama ini, ya? Kamu ini memang perempuan, tapi bukan berarti kamu gak bisa berbuat apa-apa. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Tapi, ingat, jangan lupakan kodrat, ya? Perempuan itu gak boleh ngomong kasar, harus lebih memperhatikan sopan santun, toto kromo, jangan lupa itu. Satu lagi, boleh saja kamu suka dunia akting, tapi jangan pernah jadi pemain sinetron. Ya?” senyumnya dan gelengan kepalanya kontras dengan seruan perintah-perintah  Tuhan dilantunan ayat suci itu.

Panjang lebar wanita terkasih itu bercerita dengan tenangnya, berjuta nasehat tersembunyi di dalamnya. Ku tahu Eyang Putri begitu mencintaiku, cucu ke-27 nya. Setiap katanya adalah cinta. Melebihi kecintaan Eyang pada Kuping Gajah, melebihi kecintaannya pada ketenangan yang diberikan senja dan lantunan ayat suci.



Untuk yang Terkasih
I  love You Eyang Putri ♥
Subang, 10 Juni 2012
-esage-

Minggu, 10 Juni 2012

si Matahari Bisu


17.40 tepian danau ditemani senja berpulang
Akhirnya matahari bisu ku mau kembali bicara. Sesuatu yang sudah lama ku nantikan. Ya, sejak berbulan-bulan lamanya.

12.39 seusai makan siangku yang tak lebih dari 4 sendok nasi. Perbincangan 39 menit 19 detik itu menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Berbicara  padanya tak ubahnya sebuah perbincangan seorang wartawan dan narasumber, atau lebih tepatnya lagi, seperti dialog seorang ibu dengan anaknya yang ternyata seorang pengidap autis.
Apapun yang ku tanyakan hanya terjawab “iya”, dan “tidak tahu”. Termasuk pertanyaan kesekian ku yang menanyakan tentang pembelaan atas menghilangnya dia selama ini, yang hanya mendapat respon “hmmm”.

Tak ada satupun pertanyaan yang mendapat jawaban memuaskan. Selalu bersabar. Semua ucapanku selalu diulanginya. Sesekali setengah berteriak. Dan entah apa yang dikatakannya. Termasuk saat ku dengar tiba-tiba dia mengucapkan “Rocket Terbang”.
            “Rocket terbang?”
            “rock…et… ter…bang” sedikit terbata, suaranya melemah
            “maksudnya?”
            “iya”
            “kenapa?” tanyaku perlahan
            “kecoak” jawabnya datar
“kamu kenapa?” tanyaku lembut
“aku gak kenapa-napa” jawabnya manja
Hening sejenak……
“kamu lagi apa?” layaknya pertanyaan seorang guru taman kanak-kanak kepada muridnya
            “hhhhh…duduk……” jawabnya tegas

BRAKKK!!! Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang berat dan besar jatuh dari ujung telpon.
“………………” tiba-tiba sunyi
Baru saja aku akan angkat bicara dan mengajukan pertanyaan ringan yang lain, tiba-tiba dia bersuara aneh lagi.
Ditengah kesabaranku yang masih bertahan, tetes demi tetes bulir embun hangat meluncur dari pelupuk mataku.
Selama ini aku berusaha memintanya, dan membujuknya untuk berbicara, tapi tak kunjung terlaksana. Siang ini, harusnya banyak yang bisa kami bicarakan. Bukan sekedar dialog-dialog pemulihan mental si autis.
            “shhha…yang…” seperti rintihan orang sekarat
            “ya?”
            “da…dah bundaaa… sampai jum…pa” dan suara-suara aneh kembali keluar dari mulutnya
            “……” hanya mencoba menanggapi
Semuanya terasa aneh. Apa aku tengah berada disebuah rumah sakit jiwa??
Beberapa pertanyaan kecil tetap ku layangkan untuk pria 25 tahun di seberang sana. Walau ku tahu tak akan ada jawaban yang bisa memuaskan hatiku. Hanya mencoba mengembalikan sikapnya yang dulu tenang, namun kocak dan menyenangkakn. Semua usahaku akhirnya terjawab dengan perkataan “aku mati, dek. Da…dah… sampai jump…pa”.
Setelah beberapa detik, hanya bunyi berdengung terputus-putus dari suara telpon yang terputus.



Sbg, 6 June 2012
-esage-

Jumat, 08 Juni 2012

invalid

seorang cacat muka bernyanyi ditengah kerumunan keringat cakrawala, hanyut peluhnya tersapu hujan, terombang-ambing tubuhnya ditengah badai, rambut gimbalnya mengkerut kedinginan dan semakin lengket. terus bernyanyi membelah jalanan bergerigi tajam.

"si goblok menjadi kacung para cukong. tinggal aku yg tersisa dari kawananku yg habis dimakan anjing. serdadu goblok diacungi seribu jempol karena membunuh pribumi, bahkan sejuta keping emas karena mencincang darahnya sendiri. tinggal aku yg tersisa dari kawananku yg habis dimakan anjing, jadi tumpukan bangkai." 

terus dan terus bernyanyi, berteriak, melolong bagai serigala, hingga putus pita suaranya, ku rasa.

"tinggal akkku!!!!! akuuu!!! aku yg tegak berdiri menghadap tiang. aku yg sanggup memberi hormat pada tiang. aku yg hidup dg segala kekosongan. tanpa tangan kiri ku!! tanpa kulit utuh ku!! tanpa bintang dipundak ku!! aku yg masih hidup dg BANGGA mencium tanah mu!! tanah yg kau sebut kotoran para buruh. hey bangsat!! kembalikan muka kami!!" 




Bdg, 30 Januari 2011
-esage-

Minggu, 03 Juni 2012

Part 2


“udah siap??” seorang lelaki jangkung tipis dengan kaos gombrang biru tua terburu-buru masuk kedalam rumah, tanpa menutup pintu mobilnya yang terparkir di garasi. Aku yang tengah asik menonton DVD merasa terganggu dengan suara langkah kakinya yang segede kaki Yeti si Big Foot.

“Mau kemana sih mas?”

“Cimahi” sambil menyerobot toples keripik yang tengah ku peluk

“Ngapain?”

“Kok ngapain? Heh kamu kenapa belum ganti baju? Belum mandi ya loe?”
kenapa sih si papan seluncur ini?  Biasa juga dia yang paling males mandi.

Lama-lama males juga denger tu abang-abang ngoceh mulu nyuruh mandi. Akhirnya masuk kamar mandi, dan cuma cuci muka doang. “Untuk gadis 12 taun, aku udah cantik banget banget banget kok, gak perlu mandi lagi” (◡‿◡✿) Iyaaa, aku ngomong sama kaca kok. Huh!!

14.04 pedal gaspun diinjak si papan seluncur, abangku. Semoga sabtu ini Bandung gak macet.
Meluncurlah si VW kodok putih itu dari salah satu bukit di Lembang, tempat kami tinggal. Tidak melintas di kawasan macet Bandung, ternyata. Wuzzzzzz…nyaris 100KM/jam. Wanita di samping abangku udah ngomel-ngomel. Sedangkan aku malah dibuat ngantuk oleh udara Parongpong Lembang dan sayup-sayup suara si David Bayu beserta musik naifnya dari iPod baru ku.
Sampailah si kodok putih didepan gerbang tinggi berwarna hitam pekat, seperti penjara. Imajinaasiku langung membayangkan sosok seperti apa saja yang ada didalamnya. Wanita ‘awet muda’ berjilbab pink perlahan keluar dari badan si kodok, disusul si papan seluncur. Sebelum mereka menyuruhku keluar, aku lebih baik disini saja bersama headphone yang masih terpasang juga si angry bird yang tengah jadi bantalku. Kenapa harus keluar? Toh, sampai sekarang pun aku tak diberi tahu maksud kita bertiga datang ke tempat ini. Tadinya ku pikir kita bertiga mau makan-makan disekitaran kota Bandung. Si papan seluncur kan baru saja di angkat dari jabatan di kantornya.
Terlihat ibuku sedang berbicara dengan wanita tua berdaster batik di depan rumah dengan gaya klasik modern itu. Sesekali ibu menoleh ke arah si papan seluncur yang berdiri di samping si kodok, juga ke arah ku. Tak lama, dengan wajah yang datar ibu kembali menghampiri kami. Entah apa yang ibu dan abangku bicarakan, yang jelas si papan seluncur itu terlihat lesu dan perlahan mengenakan kacamata retro aneh nya.
“yang tadi siapa bu?” kalimat pertama yang ku ucapkan selama perjalanan misterius ini
“ayah lagi keluar kota”
HAH?? APA?? AYAH?? JADI INI RUMAH AYAH??
Terlambat!! Si papan seluncur sudah menancap gas…



 
-bersambung-


Sbg, 3 June 2012
-esage-

Jumat, 01 Juni 2012

Part 1


Dear diablogary…

Mei sudah berakhir. Juni didepan mata.
Tiba-tiba aku merindukan sosok lelaki tinggi besar yang sering diceritakan si wanita macho itu dulu.
Tertarik untuk mengabadikan moment-moment keduanya yang menurutku itulah yang menjadikan "kartini" ku itu semakin ‘macho’ dan perkasa. Aku tak tahu pasti apa yang terjadi kala itu. Tapi aku tahu sebuah rahasia dibalik sorot mata keduanya.
            Memikirkannya, membuat ku ingin tahu cerita “lelaki tinggi besar” lainnya. Aku bertanya. Dan tak ku sangka, “lelaki tinggi besar” lainnya begitu istimewa di mata para malaikat kecil. Begitu antusias mereka bercerita. Senyum, kesal, hingga bulir yang hampir saja terjun bebas dari mata seorang malaikat yang menjawab pertanyaan-pertanyaan sok jurnalis ku.
            Sungguh, ku kira tiada yang lebih istimewa dari sosok “Kartini”ku yg begitu meng-Kartini. Ternyata, tidak. Jangan lupakan lelaki tinggi besar yang menjadi ‘pagar betis’ mu.
            Bertanya. Ya, hanya itu yang bisa ku lakukan untuk mencari tahu bagaimana sosok lelaki tinggi besar itu.
          “Ayahku mengajarkan segalanya, musik, foto. Tapi beliau juga adalah ironi, karena setelah aku mencintai semua yg diajarkan-nya beliau menolak mati-matian saat aku mau berkarir di bidang kesenian”, begitu lah mas Adhe Prastyo menjawabnya.
            “Ayah? Ayah ku yg Bawel, tegas, disiplin, baik, humoris yg kadang Garing setengah mati. Yang selalu mengajarkan hidup ku untuk berbuat baik tanpa pandang bulu n' tak boleh mudah tersinggung. Tidak kalah bawel nya saat ngomel pada ibu, dan kata orang ayahku adalah orang yang seram, di balik hati nya yang pink beuud..dan paling ga suka dari ayah selalu menciptakan BODOR nu super RENYAH, KATIGA, GARING tak lupa dgn 1 kebiasaan nya yaitu suka bgt di foto. Ganjen beuud… ingin ayah yang seperti bapak Ipda. Dayat Hidayat ya itu ayahku” aku tahu betul bagaimana ekspresi Diana Asri saat membayangkan sosok “lelaki tinggi besar” nya yang berseragam itu.
Tapi Siti Fatonah berkata lain, “ayahku adalah orang paling setia. Setia pada ibuku, setia pada waktu, setia pada apa yang dikerjakannya. Sifatnya yang pendiam malah bikin anak-anaknya segan. Sosok bijak yang gak pernah banyak omong, tapi nasehatnya bikin ati adem. Cuma ayah yang paling setia ngerawat ibu yang udah lama sakit. Menuntun, menggandeng, sampe menggendong ibu. Kami, anak-anaknya, malah gak sampe segitunya. Ya bisa bayangin sendiri lah gimana sayangnya ayah ke ibuku” sambil kantung matanya menahan bulir-bulir yang ingin segera meluncur dari mata bulatnya.
Aku bisa merasakan hangat disekujur tubuhku andai aku berada diantara salah satunya. Yang ‘ironi’, yang berseragam namun konyol, atau yang berwibawa. Hanya senyum-senyum sendiri melihat jawaban-jawaban yang terus berdatangan dari satu pertanyaan saja. Juga jawaban yang langsung mengalir dari mulut dua orang perempuan berjilbab di dalam kamar kost ini.
Hhhhhh,,,,,,indah ya?!
Begitu toh gambaran lelaki tinggi besar yang mereka miliki seumur hidupnya. Ya, ya, ya. Pantas mereka kompak menjawab “aku gak mau ayah yang lain” saat aku Tanya “kalo bisa milih, kalian pengen ayah yang kayak gimana sih??”. Hanya saja ada beberapa yang menambahkan “pengen ayah yang selalu kasih duit lebih walopun gak diminta”. Hahahaaa…yang ini siapa yang gak setuju??
Ayah, ya, lelaki tinggi besar yang selalu diceritakan "kartini"ku tempo dulu. Diceritakan, tapi tak bisa ditemui. Hhh…apa maksudnya coba???!!!



-bersambung- 



-esage-
Sbg, june 1st 2012