Rabu, 31 Oktober 2012

Teruntuk, Tuan Dalang...

selamat pagi (siang, sore, atau malam), Dalang…
Lagi-lagi hanya suratku yang menyapa mu. Bersama rindu yang tertinggal sepeninggal mu, tentu saja. Bagaimana kabarmu hari ini, Dalang?? Senang rasanya andai aku tahu kabarmu setiap saat tanpa harus menunggu berhari-hari sampai surat darimu tiba di depan mataku. Hahhh…bukannya aku mengeluh atas semua keadaan ini, tapi… ya kau pun tahu bagaimana rasanya. Sendiri, sepi, kosong, hampa, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain. Kepergianmu bersama 2 temanmu tempo hari menyisakan rindu yang harus ku pikul sampai mataku dan matamu bersatu kembali suatu hari nanti.

Senin, 08 Oktober 2012

selayang pandang: hujan tepi angan

Tatkala hujan datang di gersangku
tandus, hangus
Bersama buku, dan kutu,
di hadapku semua tetumbuh
bercampur peluh
luntur sekelebat eluh,
langit air melulu.

Kamis, 20 September 2012

pekik

Semua kembali, membiarkan ku mati tertindih gerigi pagi.
ketiadaanku menjadi,
kehilanganku terbagi,
pergi pun tak kunjung abadi
aku ringkih di ujung tanduk
tertusuk,
remuk,
aku terkutuk.
Aku murka
layaknya neraka menyembur luka
membelek duka, kian terbelalak.
Aku berhenti di gigir tebing
menanti ajal untuk dipersunting




-esage-
Bdg, 20 Sept 2012

Mesin Waktu

Sedetik aku berada di persimpangan,
Malioboro, tempat ku berpijak.
Delapan belas tahun lalu,
sepasang kuda putih menghantar ceriaku
Berjingkrak di bawah lampu-lampu, beranjak pijar lugu

Termakan kata

Menurutmu, apa yang membuat ku terlihat arogan?
Dengar bicara ku saat diam terdiamku
bukan diam saat teriakku

Dustaku dalam sajak
Tulusku dalam gerak
Jujurku dalam dusta, menggertak
Retak

Bingkai hujan luntur terbawa erosi,
Di balik cipratannya aku menyerahkan separuh kenistaan, emosi
menyergap, tersergap, aku gegap tanpa gempita

Aku berkata pada bibir,
Yang terjepit jari-jari kremasi
Yang hendak berjingkat, tapi segera terlumat kiamat
Tidakkah terlihat sejumput ucap tersemat??

Mataku bicara dalam segala konotasi
gradasi pembias semu terlunta layu
Dan kau membuatnya terlihat dusta, melulu
"Find me in my own word, not my world"
aku di sini, selalu, Pilu





-esage-
Bdg, 20 Sept 2012

Rabu, 19 September 2012

telanjang

Luruh seluruh peluh mengaduh gaduh dan tak tersentuh
Aku takut malam terlanjur kusut dan aku masih kalut
di sela rerumput kabut yang menyembul ribut.

Ah, ku mohon...
Demi ranum buah dan rimbun pepohon
Naungi hatiku yang telanjang di balik kokoh Kuil, konon
kata-kata yang terlalu suci mengundang dahaga pada tenggorokan para pembongak, kotor.


ranjang keranjang

saat kau kembali,
hanya ada setetes wewangian tubuhku
yang masih menempel di ranjangmu

menjalar disetiap lekuk serat benang,
meliuk mengikuti detak jantung seseorang di atasnya,
ranjang keranjang!!




-esage-
18 Sept 2012